Selasa, 01 Oktober 2013


Gundahku tak berujung
Langkah-langkahku lunglai
Tak kuasa menyaksikan arena lomba
Yang besar taruhannya
Tanpa jelas ada hadiahnya

Tawa-tawa kecil anak -anak pinngiran kota
Langkah menanjanjak anak-anak pegunungan
Kecipak riak kecil di kaki anak-anak di pesisir
Memenuhi dialog dalam jiwaku yang bertajuk
akan kemana mereka

Di singgasana para penguasa bertahan
Mengurai dengan tajuk yang sama denganku
menggunakan bahasa yang kata mereka pas
Bahasa yang tidak pernah digunakan oleh anak-anak itu

Anak-anak tetap dengan riang dan kadang dengan bosannya
menanti kehadiran sosok yang menjadi tautannya
Yang diharap membantu menggapai mimpi di jamannya
Bukan cuma ujian nasional yang akan meluluskannya

Sosok yang sering tak berdaya yang disebut guru
Guru juga membawakan tajuk yang aku pikirkan
Banyak yang  ingin menggunakan bahasanya
Bahasa yang dinikmati dan dikunyah nikmat oleh anak-anak’

Namun ternyata bahasa itu tak selalu membahagiakan rajanya
Guru bermain petak umpet agar bermakna bagi anak-anak
Agar mereka menjadi seseorang pada jamannya kelak
Tak jarang guru merubah warna dirinya bagaikan kadal
dan rela berjalan lama di siang dan malamnya
Namun ada yang merasa terlalu lelah mengikuti nuraninya
Dan memasrahkan peran pentingnya pada deretan perintah saja
Mudah dilakukan walupun hadiah buat anak-anak mungkin tiada

Yang jelas mereka tak perlu menjadi kadal untuk berubah warna
Guru mari kita mengajar anak-anak dan bukan mengajar siswa
Yang membuat kita menganggap mereka menjadi manusia
Siswa adalah deretan nama-nama yang mungkin sekedar untuk dinilai

Sedangkan anak-anak selalu dalam wujud manusia yang beraga dan berjiwa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar