Jakarta - Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) akan mengembangkan komputer tablet yang berisi materi pelajaran. Komputer tablet ini nantinya akan menggantikan buku cetak pelajaran yang selama ini digunakan oleh siswa sekolah. “Komputer tablet ini akan digunakan sebagai bagian utama dalam sistem pelajaran,” ujar Mendiknas M Nuh di kantor Kemendiknas, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (2/5/2011). ………….Sementara itu Direktur Utama Microsoft Indonesia Sutanto Hartono mengatakan kerjasama tersebut bertujuan untuk meningkatkan metode pengajaran para guru. Dengan program ini diharapkan guru dan tenaga pengajar akan siap menggunakan metode belajar mengajar abad ke 21.
Sumber: Detiknews
Pak Nuh kalau boleh tanya, Bapak kan akademisi kampus, apakah simpulan bahwa anak-anak sekolah perlu menggunakan komputer tablet yang Bapak sampaikan itu karena:
1. Bapak telah melakukan riset menyeluruh dan hasilnya ditemukan bahwa kekurang berhasilan pendidikan kita di Indonesia, karena anak-anak capek nulis dan bawa buku?
2. Bapak merasakan nyamannya menggunakan tablet dan kemudian ingin anak-anak juga merasakan nyamannya memanfaatkan tablet?
3. Bapak telah termakan bujuk rayu industri yang menawarkan manfaat tablet, tanpa memikirkan dampak negatif yang ditimbulkan? Saya yakin kita semua tahu ada juga dampak positifnya…….
Komputer tablet memang adalah temuan dunia teknologi baru yang sepertinya memudahkan salah satu bagian dari dari persoalan kehidupan. Manfaat yang ditonjolkan oleh penemunya adalah kemampuannya menyimpan data dan informasi dengan kapasitas yang suuuangattt beesar (atau bahkan terlalu besar). Bagi pengguna yang memang memerlukan hal itu sangat dapat diterima. Setelah di tangan si tablet bisa multi fungsi, tentu saja bagi yang secara psikologis telah tahu bagaimana menggunakannya secara tepat.
Di tingkat pendidikan pada usia sekolah, bila Mendiknas meng’endorse’ penggunaan komputer tablet, ini sama artinya dengan menurunkan kemampuan berfikir siswa, karena andalannya baru di batas menympan data dan mengakses informasi, BUKAN mengelolanya. Siswa di hampir semua sekolah di negara kita memerlukan guru-guru yang bisa bertanya dengan tepat Pak Mendiknas, yang memampukan anak-anak berfikir kritis… Coba Pak tengok hasil temuan berbagai riset mengenai kemampuan berfikir anak Indonesia masih sebatas menghafal Pak, jadi jika yang Bapak garis bawahi cuma bungkusnya, maka Bapak sedang menjerumuskan kehidupan bangsa ini di masa datang PAk.
Di sisi lain, dunia industri yang memang tujuannya tak lain dan tak bukan adalah mengeruk uang segar sebanyak-banyaknya pasti akan mendorong penggunaan benda-benda semacam ini apalagi di sekolah, 10% siswa Indonesia saja yang menggunakan mereka sudah akan bisa membuat beberapa pabrik lagi. Coba lagi-lagi jika dana BOS yang diserahkan ke SBI / RSBI harus dibelanjakan untukk membeli tablet, sudah berapa uang negara disedot kembali oleh kelompok kapitalis?
Ini terlepas dari dampak lain yang menyangkut semakin melebarnya jurang sosial, karena jelas tidak mungkin mewajibkan semua anak Indonesia menggunakan gadget ini. Tingkat ekonomi masyarakat yang saat ini makin jomplang jelas tak mendukung. Selain itu jaringan yang masih belum terjangngkau merata bahkan di beberapa kota besarpun adalah kendala.
Bagi industri sih asal sudah laku ya sudah perkara akhirnya berdampak buruk, ya yang menginstruksikan atau menyarankan kan bukan pemilik industri, melainkan kemendiknas….
Sekedar kegundahan terhadap kemendiknas yang senengnya beruforia dengan sesuatu yang hanya terlihat mengkilat diluarnya saja…
Salam mendidik teman-teman semoga kita bisa tetap konsisten berupaya meningkatkan kualitas mendidik kita.
Sumber: Detiknews
Pak Nuh kalau boleh tanya, Bapak kan akademisi kampus, apakah simpulan bahwa anak-anak sekolah perlu menggunakan komputer tablet yang Bapak sampaikan itu karena:
1. Bapak telah melakukan riset menyeluruh dan hasilnya ditemukan bahwa kekurang berhasilan pendidikan kita di Indonesia, karena anak-anak capek nulis dan bawa buku?
2. Bapak merasakan nyamannya menggunakan tablet dan kemudian ingin anak-anak juga merasakan nyamannya memanfaatkan tablet?
3. Bapak telah termakan bujuk rayu industri yang menawarkan manfaat tablet, tanpa memikirkan dampak negatif yang ditimbulkan? Saya yakin kita semua tahu ada juga dampak positifnya…….
Komputer tablet memang adalah temuan dunia teknologi baru yang sepertinya memudahkan salah satu bagian dari dari persoalan kehidupan. Manfaat yang ditonjolkan oleh penemunya adalah kemampuannya menyimpan data dan informasi dengan kapasitas yang suuuangattt beesar (atau bahkan terlalu besar). Bagi pengguna yang memang memerlukan hal itu sangat dapat diterima. Setelah di tangan si tablet bisa multi fungsi, tentu saja bagi yang secara psikologis telah tahu bagaimana menggunakannya secara tepat.
Di tingkat pendidikan pada usia sekolah, bila Mendiknas meng’endorse’ penggunaan komputer tablet, ini sama artinya dengan menurunkan kemampuan berfikir siswa, karena andalannya baru di batas menympan data dan mengakses informasi, BUKAN mengelolanya. Siswa di hampir semua sekolah di negara kita memerlukan guru-guru yang bisa bertanya dengan tepat Pak Mendiknas, yang memampukan anak-anak berfikir kritis… Coba Pak tengok hasil temuan berbagai riset mengenai kemampuan berfikir anak Indonesia masih sebatas menghafal Pak, jadi jika yang Bapak garis bawahi cuma bungkusnya, maka Bapak sedang menjerumuskan kehidupan bangsa ini di masa datang PAk.
Di sisi lain, dunia industri yang memang tujuannya tak lain dan tak bukan adalah mengeruk uang segar sebanyak-banyaknya pasti akan mendorong penggunaan benda-benda semacam ini apalagi di sekolah, 10% siswa Indonesia saja yang menggunakan mereka sudah akan bisa membuat beberapa pabrik lagi. Coba lagi-lagi jika dana BOS yang diserahkan ke SBI / RSBI harus dibelanjakan untukk membeli tablet, sudah berapa uang negara disedot kembali oleh kelompok kapitalis?
Ini terlepas dari dampak lain yang menyangkut semakin melebarnya jurang sosial, karena jelas tidak mungkin mewajibkan semua anak Indonesia menggunakan gadget ini. Tingkat ekonomi masyarakat yang saat ini makin jomplang jelas tak mendukung. Selain itu jaringan yang masih belum terjangngkau merata bahkan di beberapa kota besarpun adalah kendala.
Bagi industri sih asal sudah laku ya sudah perkara akhirnya berdampak buruk, ya yang menginstruksikan atau menyarankan kan bukan pemilik industri, melainkan kemendiknas….
Sekedar kegundahan terhadap kemendiknas yang senengnya beruforia dengan sesuatu yang hanya terlihat mengkilat diluarnya saja…
Salam mendidik teman-teman semoga kita bisa tetap konsisten berupaya meningkatkan kualitas mendidik kita.